BAB I
Beginning
Kulangkahkan kakiku menyusuri areal kantin kampus dengan hati bimbang. Mau makan siang ama apa?? Ah, tidak, bukan makanan yang ada di pikiranku. Meski aku sedang berada di kantin, tapi pikiranku jauh melayang kepada seseorang bernama melati.
Melati.. dia adalah adik kelasku. Juniorku. Pertama kali waktu ospek, aku bahkan tidak tahu namanya. Jangankan tahu namanya, orangnya saja aku ga kenal. Aku ini cuek. Makanya temanku bisa dihitung dengan jari. Tapi, bukan berarti aku ga perhatian lho. Justru itu, aku selalu memikirkan tentang orang yang aku kenal di waktu luang. Seperti sekarang aku sedang memikirkan melati. Lucu kalau mengingat apa yang terjadi setelah aku mengenal melati. Hidupku seperti sedikit berubah. Ada cahaya baru. Haha, terlalu berlebihan memang. Lebay kalo kata anak muda sekarang.
Melati.. Sedang apa dia sekarang? Sedang berada dimana? Mungkin dia sedang di kelas. Menerima materi kuliah dengan polosnya. Maklum anak baru. Tidak sepertiku, yang sudah muak dengan teori dan teori yang tiada habisnya..
"Woy! Melamun saja!" aku tersenyum. Tersadar dari lamunanku. Ronggo, teman yang paling dekat denganku –setidaknya kuanggap begitu– duduk di sampingku. Kupandang dia dan kurasakan ada yang berbeda. Wajahnya tampak ceria cerah, tidak seperti biasanya. "nanti malam, aku menginap di rumahmu yah." ujarnya masih dengan wajah sumringah. "ya, datang saja." jawabku.
***
jam 14.40. Pelajaran komunikasi personal ini membuatku 'gerah'. Meskipun ruangan kelas full ac, tapi aku tak bisa diam. Seperti cacing kepanasan yang disulut rokok. Kalau sudah begini, aku memilih membuka handphone-ku. Dan semenit kemudian, aku sudah sibuk mengobrol dengan teman-temanku di luar sana. Chatting.
"Rama! Sedang apa kamu? Ibu perhatikan sedari tadi, kamu memainkan hp terus?" suara Ibu Tuti terdengar menegurku. "ah, iya Bu.." iya, bukan tidak. Karena aku memang jujur sedang mainin hp. "Kalau begitu, kerjakan soal nomor 4!", perintah Bu Tuti. "Tidak bisa, Bu", jawabku. "Nah, ini! Ini akibatnya kalau tidak memperhatikan pelajaran! Bla bla bla...." Ibu Tuti mengomel panjang pendek. Tapi aku ga peduli, aku sudah larut dalam chatinganku, hehe..
room: naruto animated;
rama> huh, dosen ngebetein
portgas>dosen apa?
rama>dosen apa mboh, w jg lupa matkul apa
rama>enakny tu dosen diapain y?
denis>jah, matkul ndri lupa
portgas>emg ngebetein ny gmn?
rama>ngomelin w gara2 w sbuk c8[1].. Haha.,
icha>diracun aja dosen ky gt mah, hwhw
portgas>weh jangan. Dosen ny ce ap co?
rama> ce..
denis>weh,klu ce mah, dijual jd tkw aja..lumayan kan? Wkwk
portgas>hehe..
rama>knp gas?
portgas>sekarang giliran w yg dimarahin guru gra2 c8 terus..
Icha>hu..,gbs ngatur strategi sih! Kya w neh.. w jg lg diomelin, tp tetep bsa c8.. wkwkwk
denis>ah payah smua. w jg lg diomelin tw.. hahaha..
Ternyata kami senasib....
***
Tak terasa bel tanda pelajaran usai sudah berbunyi. Dengan malas, aku keluar kelas. Huft, panasnya. Kalo bisa, aku memilih terus di dalam kelas, secara full ac, hehe....
Aku pun duduk di bawah pohon mangga di taman kampus. Lumayan, di bawah pohon agak sejuk. Teman-temanku yang lain ada yang sudah pulang, ada juga yang pergi ke kantin. Sedangkan aku malas pulang jam segini. Panas. Toh, kulihat di kejauhan ada awan mendung. Kalau kutunggu sebentar, mungkin disini juga bakal mendung. Lebih baik pulang ketika mendung, menurutku. Toh kalau kehujanan, anggap saja sekalian mandi. Simpel kan? Hehehe. Pada saat itulah melati keluar dari kelasnya. Aku bingung. Ingin kusapa, tapi malu, banyak teman-temannya. Tidak disapa, nanti dikira sombong. Akhirnya, pura-pura tidak lihat sajalah, biar aman. Dengan cepat kuubah posisi dudukku menjadi membelakangi melati dan teman-temannya tanpa disadari mereka. Dan, kemudian, dari kejauhan ronggo datang menghampiriku. "Mau pulang sekarang, enggak?" tanyanya. "Ya sudah, pulang sekarang saja," kataku. Dalam hati sedikit banyak berterimakasih pada ronggo, soalnya, trik pura-pura tidak melihat melati jadi semakin sempurna hehehe.. Tapi ini ironis kalau dipikir-pikir. Aku suka melati, tapi setiap mau bertemu, malah seolah bermusuhan. Aku sih yang bersikap bermusuhan. "Woy, melamun saja! Ayo berangkat!" hardik ronggo. Aku hanya tersenyum dan bangkit dari situ. Kemudian kami pergi ke tempat parkir motor dan segera tancap gas ke rumahku.
***
Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang pada melati. Ronggo yang membawa motor, jadi aku bisa bebas melamun, hehehe. Aku teringat ketika pertama kali aku dan melati saling kenal. Waktu itu, aku sedang duduk di bawah pohon mangga seperti biasa, kemudian tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Ketika kubuka, tenyata sebuah sms dari orang yang tidak kukenal. Isi smsnya:
"setiap pengalaman dan masalah yang kita hadapi di dunia, pasti ada hikmahnya. Jika kita tidak menyadarinya sekarang, waktu akan menunjukkan hikmahnya. Tapi bagaimana jika kita kehabisan waktu?"
Aku agak kaget juga. Soalnya, aku juga kadang berpikir seperti itu. Siapa orang ini? Pertanyaan ini sulit untuk aku jawab. Karena bingung, sms tersebut tidak aku balas. Keesokan harinya, aku bertanya kepada Randy. Randy adalah teman sekelasku yang paling banyak mengenal orang-orang sekampus, dari junior sampai senior. Dari Randylah aku tahu kalau sms itu dari melati. Dan sejak saat itu, aku dan melati sering sms-an, tapi, kalau bertemu di kampus yaa.. seperti tadi, hehehe....
"Melati lumayan manis, ya?" suara ronggo mengagetkanku. Apalagi yang sedang kupikirkan memang melati. Apa ronggo bisa membaca pikiranku? Ah, tak mungkin, cuma kebetulan saja. "Yaa... Manis lah.. Dia kan cewe, kita cowo, wajar kalau kita menganggap dia manis.." jawabku. "Jangan-jangan kamu suka melati yah??" tanyaku dengan nada sedikit menggoda pada ronggo. Tapi ronggo hanya tertawa. Dan tak terasa kami sudah sampai di depan pagar rumahku. "Buka pagarnya, Ram," titah ronggo. "Iya, Baginda," jawabku. Setelah kubuka pagar, ronggo memasukkan motornya ke halaman. Kemudian ia berdiri di belakangku menungguku membuka pintu rumah. Dan ketika aku membuka pintu, tiba-tiba saja dari bawah pintuku keluar bayangan hitam kecil berlari keluar. Ronggo segera berteriak kencang lalu melompat ke atas kursi di halaman. Para tetanggaku sampai keluar dan melihat ke rumahku mendengar ribut-ribut. Rupanya bayangan itu seekor tikus. Ronggo memang jijik sekali dengan tikus. Aku cuma bisa tertawa geli sekaligus malu melihat tingkah Ronggo.
"Masa preman takut sama tikus?" kataku. Ronggo hanya nyengir kuda.
***
Malam harinya aku memasak nasi goreng untuk makan malam. Aku memang tinggal sendirian di rumahku, bukan rumah milikku sih, tapi punya kakakku yang tidak terpakai. Daripada kosong, mending aku isi. Kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari kampusku. Jadi ya seperti inilah keseharianku. Semua pekerjaan rumah aku kerjakan sendiri. Tetapi, aku ini ceroboh, hehehe. Seperti nasi goreng yang kubuat, entah seperti apa rasanya. Begitu matang, segera kupanggil ronggo. "Ambil saja sendiri, yang penting nasi gorengnya bisa dimakan," kataku asal. Dan ronggo yang memang sudah lapar, tanpa banyak protes langsung makan dengan lahap. Aku juga ikut makan. Diluar dugaan, ternyata rasanya tidak seburuk yang kukira.
"Jadi begitulah, Ram...." kata ronggo. Rupanya ia baru saja jadian dengan Mita, anak semester dua. Pantas saja wajahnya tadi siang sumringah sekali. "Tapi, jangan bilang-bilang dulu sama anak-anak yang lain, yah," kata ronggo. "Ya, tenang aja," jawabku. "Pokoknya, kalau anak-anak sampai tahu, kau yang aku cari, karena cuma kau yang tahu tentang ini!" tegas ronggo. "Iya, iya, tapi kenapa sih kok pacaran sembunyi-sembunyi? Gak seperti biasanya?" tanyaku. "Ini bukan keinginanku sih, tapi Mita yang melarangku. Aku juga enggak tahu alasannya," kata ronggo. Aku jadi sedikit curiga, tapi aku tak menanyakan kecurigaanku. Biar sajalah, nanti juga terjawab, pikirku.
“Ya, sudahlah, aku ngantuk neh. Lanjutkan besok saja yah,” kataku. “Yaah,” rajuk Ronggo, tapi akhirnya dia bersiap untuk tidur juga.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar